Aku memiliki sahabat bernama Nadiah Try Wulandari. Wulan lahir pada tanggal 28 Maret 1994. Persahabatan kami telah dijalin sejak kita masih kecil. Aku berkenalan dengan Wulan ketika ia bersama ibu, adik dan kedua kakak laki-lakinya pindah di sebelah rumahku .Ketika itu usia ku baru menginjak 7 tahun, sedangkan Wulan berusia 5 tahun. Wulan beserta keluarganya pindah ke tempat dimana aku tinggal ketika beberapa bulan ia kehilangan ayah tercintanya untuk selama-lamanya. Setelah aku mengenal Wulan, aku dengannya menjadi sangat dekat. Kemana-mana kita selalu bersama, bahkan ia sudah ku anggap seperti adik kandung ku sendiri. Wulan memiliki sifat yang sangat baik, ramah dan dapat mengerti akan diriku.
Pada tahun 2011 Wulan dan keluarganya pindah rumah. Walau pindahnya tidak jauh dari rumahku, tapi aku merasa kehilangan, karena aku akan jarang sekali bertemu dengannya. Walau aku dan Wulan masih sesekali akan saling berkunjung ke rumah masing-masing. Cobaan datang menghampiri keluarganya pada tanggal 20 Oktober 2012. Wulan kehilangan kakak laki-laki pertamanya yang meninggal karena sakit yang dideritanya yaitu penyakit paru-paru. Ketika itu ibunya juga menderita penyakit yang sama dengan yang diderita oleh kakaknya itu. Aku merasa sedih melihat apa yang dialami oleh keluarganya. Hanya doa yang dapat aku haturkan untuk ia dan keluarganya dan semangat untuk pantang menyerah yang selalu aku ucapkan kepadanya. Pada tanggal 29 Oktober 2012, tepat 9 hari setelah kepergian kakaknya, ibunya pergi ke pangkuan Ilahi untuk selama-selamanya. Disana aku baru melihat kesedihan mendalam yang ia rasakan, karena Wulan selama ini selalu ceria, terlihat tegar, tidak pernah memperlihatkan apapun yang ia alami kepada siapapun. Wulan menangis tepat dihadapanku karena ia tidak sanggup harus kehilangan dua orang yang sangat ia cintai dalam waktu yang berdekatan. Aku mengatakan bahwa ia tidak sendiri. Ia masih memiliki kakak dan adik. Keluargaku adalah keluarganya juga. Kita sudah seperti keluarga. Orangtua kakak juga orangtua Wulan. Apapun yang Wulan butuhkan, sebisa mungkin kakak akan bantu.
Kini Wulan hanya tinggal bertiga dengan kakak dan adiknya yang masih duduk di bangku SMP. Sekarang Wulan terlihat lebih tegar dan dapat kembali tersenyum seperti sedia kala, walau aku tahu kesedihan itu tidak akan pernah hilang dan terobati. Kakak berjanji akan selalu ada untuk Wulan hingga kapanpun, karena kakak menyayangi Wulan lebih dari apapun di dunia ini.
Tetap semangat Wulan. Sahabat sejatiku yang tidak akan pernah terpisahkan hingga kapanpun :))
Tidak ada komentar:
Posting Komentar