Medan Makna ( semantic field, semantic domain ) adalah bagian dari sistem semantik bahasa yang menggambarkan bagian dari bidang kebudayaan atau realitas dalam alam semesta tertentu dan yang direalisasikan oleh seperangkat unsur leksikal yang maknanya berhubungan. Misalnya, nama-nama warna, nama-nama perabot rumah tangga, nama-nama perkerabatan, istilah pelayaran dan sebagainya yang masing-masing merupakan satu medan makna. Banyaknya unsur leksikal dalam satu medan makna antara bahasa yang satu dengan bahasa yang lain tidak sama besarnya, karena hal tersebut berkaitan erat dengan sistem budaya masyarakat pemilik bahasa itu.
Contoh : Nama-nama warna dalam bahasa Indonesia adalah cokla, merah ; biru, hijau, kuning, dan abu-abu; dalam hal ini putih dan hitam menurut fisika adalah bukan warna. Atau lebih tepat putih adalah kumpulan segala macam warna, sedangkan hitam adalah tidak ada warna sama sekali. Maka, untuk membedakan perbedaan nuansa warna dari nama-nama warna pokok itu biasanya diberi keterangan perbandingan di belakang nama warna itu. Misalnya, merah tua, merah muda, merah hati, dan sebagainya, dengan demikian kebutuhan akan nama pembeda dari warna-warna itu terpenuhi.
Bahasa Inggris mengenal sebelas nama warna dasar, yaitu white, red, green, yellow, blue, brown, purple, pink, orange, dan grey. Sedangkan nama bahasa Hunanco, salah satu bahasa di Filipina, hanya mengenal empat nama warna, yaitu : (ma) biru 'hitam dan warna gelap lain', (ma) langit 'putih dan warna cerah lain', (ma) rarar 'kelompok warna merah' dan (ma) latuy 'kuning, hijau muda, dan coklat muda.
Jumlah nama atau istilah perkerabatan juga tidak sama banyaknya antara bahasa yang satu dengan bahasa yang lain dan konsep penamaanya juga berbeda. Dalam bahasa Indonesia dikenal dengan nama kakak dan adik, yaitu orang yang lahir dari ibu yang sama. Kalau dalam bahasa Inggris menyebut dengan nama brother and sister.
Di dalam buku Thesaurus of English Word and Phrases Classified and Arranged so as to Facilitate the Expression of Ideas and Assist in Literacy Composition oleh Peter Mark Roget ( 1779-1868) terdaftar 1042 kelompok medan makna yang keseluruhannya terdiri dari 250.000 kata dan frase. Namun, dalam studi medan makna ini, seperti yang dilakukan Nida ( 1974 dan 1975), kata-kata biasanya dibagi atas empat kelompok, yaitu kelompok bendaan, kelompok kejadian/peristiwa, kelompok abstrak, dan kelompok relasi.
Kata-kata atau leksem yang mengelompok dalam satu medan makna, berdasarkan sifat hubungan semantisnya dapat dibedakan atas kelompok medan kolokasi dan medan set. Kolokasi Latin colloco yang berarti ada di tempat yang sama dengan menunjuk pada hubungan sintagmatik yang terdapat antara kata-kata atau unsur-unsur leksikal itu.
Contoh : Tiang layar perahu nelayan itu patah di hantam badai, lalu perahu itu digulung ombak dan tenggelam beserta segala isinya. Dari kalimat tersebut, kita dapati kata-kata layar, perahu, nelayan, badai, ombak, dan tenggelam yang merupakan kata-kata dalam satu kolokasi, satu tempat atau lingkungan yang sama atau dalam hal ini lingkungan kelautan.
Contoh lain : kata-kata bandara, petugas tiket, pilot, penumpang, pramugari, dan udara berkolokasi dalam pembicaraan tentang pesawat.
Kalau kolokasi menunjuk pada hubungan sintagmatik karena sifatnya yang linier, maka set menunjuk pada hubungan paradigmatik karena kata-kata atau unsur-unsur yang berada dalam suatu set dapat saling menggantikan. Suatu set biasanya berupa sekelompok unsur leksikal dari kelas yang sama yang tampaknya merupakan satu kesatuan. Setiap unsur leksikal dalam suatu set dibatasi oleh tempatnya dalam hubungan dengan anggota-anggota dalam set tersebut.
Misal, kata remaja merupakan tahap pertumbuhan antara kanak-kanak menjadi dewasa. Sedangkan kata sejuk merupakan suhu diantara dingin dan hangat. Maka, kalau kata-kata yang satu set dengan remaja dan sejuk dibagankan sebagai berikut :
Set bayi dingin
( paradigmatik ) kanak-kanak sejuk
remaja hangat
dewasa panas
manula terik
Pengelompokan kata berdasarkan kolokasi dan set dapat memberikan gambaran yang jelas mengenai teori medan makna, meskipun makna unsur-unsur leksikal itu sering bertumpang tindih dan batas-batasnya seringkali menjadi kabur. Selain itu, yang disebut makna denotasi dan makna konotasi ; antara makna dasar dari suatu kata atau leksem dengan makna tambahan dari kata itu.
Misalnya, kata remaja dalam contoh di atas hanya menunjuk pada jenjang usia, antara usia 14-17 tahun. Padahal kata remaja juga mengandung pengertian atau makna tambahan belum dewasa, keras kepala, bersifat kaku, suka mengganggu dan membantah, serta mudah berubah-ubah sikap, pendirian, atau pendapat.
Contoh lain, kata wanita, selain bermakna dasar manusia dewasa berkelamin perempuan, juga memiliki makna tambahan seperti modern, berpendidikan cukup, tidak berkebaya, dan sebagainya.
Maka dari itu, secara semantik diakui bahwa pengelompokan kata atau unsur-unsur leksikal secara kolokasi dan set hanya menyangkut satu segi makna, yaitu hanya makna dasarnya saja. Sedangkan makna seluruh tiap kata atau unsur leksikal itu perlu dilihat dan dikaji secara terpisah dalam kaitannya dengan penggunaan kata atau unsur leksikal tersebut di dalam pertuturan. Jadi, pengelompokan kata ats medan makna ini hanya bertumpu pada makna dasar, makna denotatif atau makna pusatnya saja.
DAFTAR PUSTAKA :
Chaer, Abdul. 2007. Linguistik Umum. Jakarta : Rineka Cipta.
Chaer, Abdul. 2008. Pengantar Semantik Bahasa Indonesia. Jakarta : Rineka Cipta.