VERBA
BATASAN DAN CIRI VERBA
Ciri-ciri verba dapat diketahui dengan mengamati 1) prilaku semantis, 2) prilaku sintaksis, dan 3) bentuk morfologisnya. Namun, secara umum verba dapat diidentifikasi dan dibedakan dari kelas kata yang lain, terutama dari adjektiva. Ciri-ciri verba adalah sebagai berikut:
a. Verba memiliki fungsi utama sebagai predikat atau sebagai inti predikat dalam kalimat walaupun dapat juga mempunyai fungsi lain.
Contoh: - Pencuri itu kabur
-Siswa-siswa sedang belajar di kelas
-Mereka tidak akan pergi keluar rumah
Bagian yang dicetak miring pada kalimat diatas adalah predikat, yaitu bagian yang menjadi pengikat bagian lain dari kalimat itu. Dalam belajar dan pergi berfungsi sebagai inti predikat.
b. Verba yang mengandung makna inheren perbuatan (aksi), proses, atau keadaan yang bukan sifat atau kualitas.
Contoh: makan, minum, tidur mengandung makna inheren perbuatan karena kata-kata itu menyatakan tentang proses atau keadaan.
c. Verba yang bermakna keadaan, tidak dapat diberi prefiks ter- yang berarti paling.Verba mati atau suka, tidak dapat diubah menjadi “termati atau tersuka”.
d. Pada umumnya tidak dapat bergabung dengan kata-kata yang menyatakan makna kesangatan/lebih/melampaui batas. Contoh: agak belajar, sangat pergi dan bekerja sekali.
VERBA DARI SEGI PRILAKU SEMANTIS / MAKNA
Verba dari prilaku semantis mempelajari tentang makna-makna inheren. Makna inheren/ perbuatan mengandung tiga macam makna yaitu: makna perbuatan, makna proses, makna keadaan.
Contoh verba yang mengandung makna inheren perbuatan:
Adik sedang bermain di taman. Kata bermain memiliki makna perbuatan karena kata bermain bermakna sedang melakukan pekerjaan.
Contoh verba yang mengandung makna inheren proses
Kucing itu mati kemarin. Kata mati memiliki makna inheren karena sebelum kucing itu mati ia hidup. Maka dari itu verba mati mamiliki makna proses.
Contoh verba yang mengandung makna keadaan
Cuaca pagi hari sangat dingin. Kata dingin memiliki makna keadaan karena mengacu pada situasi tertentu. Kata dingin dapat diberu prefix ter- menjadi terdingin.
VERBA DARI SEGI PRILAKU SINTAKSIS
Verba dari segi prilaku sintaksis mempelajari tentang unsur-unsur dalam suatu kalimat. Tetapi kebanyakan ada unsur-unsur lain yang harus atau boleh ada dalam kalimat tersebut.
Contoh: Verba mendekat mengharuskan adanya subjek sebagai pelaku, tetapi melarang munculnya nomina dibelakangnya.Sebaliknya, verba mendekati mengharuskan adanya nomina di belakangnya.
Prilaku sintaksis berkaitan erat dengan makna dan sifat ketransitifan verba.
Pengertian Ketransitifan
Dari segi sintaksis, ketransitifan verba ditentukan oleh dua faktor:
1.Adanya nomina yang berdiri di belakang verba yang berfungsi sebagai objek dalam kalimat aktif
2.Kemungkinan objek itu berfungsi sebagai subjek dalam kalimat pasif
1. Verba Transitif
Verba Transitif adalah verba yang memerlukan nomina sebagai objek dalam kalimat aktif, dan objek itu dapat berfungsi sebagai subjek dalam kalimat pasif.
Contoh: Ayah sedang mencuci mobil di halaman rumah
Ibu pasti menyayangi semua anaknya
Verba mencuci dan menyayangi adalah verba transitif, dan masing-masing diikuti oleh nomina, yaitu mobil di halaman rumah, semua anaknya. Verba ini juga dapat dijadikan kalimat pasif.
Contoh: Mobil dihalaman rumah sedang dicuci oleh ayah
Semua anak pasti disayangi oleh ibunya
Verba Transitif terbagi lagi menjadi tiga:
a.Verba Ekatransitif
Verba Ekatransitif adalah verba transitif yang diikuti oleh satu objek.
Contoh: Ibu sedang menjual dagangannya di pasar
Vina akan membeli buku baru
Verba menjual dan membeli merupakan verba ekatransitif karena kedua verba ini hanya memerlukan sebuah objek (dagangannya di pasar dan buku baru). Verba ini juga dapat dijadikan kalimat pasif.
Contoh: Dagangan di pasar akan dijual oleh ibu
Buku baru itu akan dibeli oleh Vina
b.Verba Dwitransitif
Verba Dwitransitif adalah verba yang dalam kalimat aktif dapat diikuti oleh dua nomina, satu sebagai objek dan satunya lagi sebagai pelengkap.
Contoh: Gina sedang mencarikan Rian sebuah pekerjaan
Ayah akan membelikan ibu pakaian baru
Verba mencarikan dan membelikan merupakan verba dwitransitif karena masing-masing memiliki objek (Rian dan Ibu), sedangkan sebagai pelengkapnya (sebuah pekerjaan dan pakaian baru)
c.Verba Semitransitif
Verba Semitransitif adalah verba yang objeknya boleh ada dan boleh juga tidak.
Contoh: Riko sedang menulis artikel
Riko sedang menulis
Contoh diatas ada yang memakai objek seperti Riko sedang menulis artikel, ada juga yang tidak memakai objek seperti Riko sedang menulis. Jadi, objek untuk verba semitransitif bersifat manasuka.
2.Verba Taktransitif
Verba Taktransitif adalah verba yang tidak memiliki nomina di belakangnya yang dapat berfungsi sebagai subjek dalam kalimat pasif.
Contoh: Saya harus bekerja keras untuk mengerjakan tugas ini
Petani di pegunungan bertanam jagung
Verba bekerja merupakan verba taktransitif karena tidak dapat diikuti nomina. Verba bertanam diikuti oleh nomina jagung, tetapi nomina itu bukanlah objek dan tidak dapat menjadi subjek dalam kalimat pasif. Oleh karena itu, bertanam disebut verba taktransitif, sedangkan jagung merupakan pelengkap.
Pelengkap tidak harus berupa nomina. Dengan demikian, verba taktransitif dapat dibagi atas dua macam, yaitu verba yang berpelengkap dan verba yang tak berpelengkap.
Contoh Verba berpelengkap:
Toko itu berjumlah lima puluh buah
Verba berjumlah adalah verba berpelengkap, dan pelengkap verba harus ada dalam kalimat.Jika pelengkap verba itu tidak hadir, kalimat yang bersangkutan tidak sempurna dan tidak berterima. Pelengkap lima puluh buah mengikuti verba tersebut. Karena pelengkap harus hadir, maka verba itu disebut juga verba taktransitif berpelengkap wajib.
Contoh verba tidak berpelengkap:
Pohon mangga itu tumbuh subur
Kata subur bukan pelengkap, melainkan keterangan. Karena subur dapat difrasakan menjadi dengan subur.
3. Verba Berpreposisi
Verba Berpreposisi adalah verba taktransitif yang selalu diikuti oleh preposisi tertentu.
Contoh: Saya teringat akan orang yang menolong saya kemarin
Mira sungguh mirip dengan almarhum teman saya
Indra berangkat dari Pekanbaru ke Bandung
VERBA DARI SEGI BENTUKNYA
Ada dua macam dasar yang dipakai dalam pembentukan verba:
1.Dasar yang tanpa afiks apapun telah memiliki kategori sintaksis dan mempunyai makna yang mandiri. Disebut juga dasar bebas.
2.Dasar yang kategori sintaksis ataupun maknanya baru dapat ditentukan setelah diberi afiks. Disebut juga dasar terikat.
Contoh: juang, temu dan selenggara
Pada dasarnya bahasa Indonesia mempunyai dua macam bentik verba yaitu:
1.Verba Asal: Verba yang dapat berdiri sendiri tanpa afiks dalam konteks sintaksis
2.Verba Turunan: Verba yang harus atau dapat memakai afiks, bergantung pada tingkat keformalan bahasa atau pada posisi sintaksisnya. Verba turunan dibagi lagi menjadi tiga sub kelompok, yaitu:
a.Verba yang dasarnya adalah dasar bebas ( misal, rumah, darat), tetapi memerlukan afiks supaya dapat berfungsi sebagai verba (di rumah, mendarat)
b.Verba yang dasarnya adalah dasar bebas (misal, baca, tulis) yang dapat pula memiliki afiks (membaca, menulis)
c.Verba yang dasarnya adalah dasar terikat (misal, juang) yang memerlukan afiks (berjuang)
Ada juga verba turunan yang berbentuk kata berulang. Misalnya, jalan-jalan, minum-minum)
1.Verba Asal
Verba Asal adalah verba yang dapat berdiri sendiri tanpa afiks.
Contoh: -Di mana rumah Bapak?
Vina pergi ke sekolah pada pukul 07.00
2. Verba Turunan
Verba Turunan adalah verba yang dibentuk melalui transposisi, pengafiksan, dan reduplikasi (pengulangan), atau pemajemukan (pemaduan).
Transposisi adalah suatu proses penurunan kata yang memperlihatkan peralihan suatu kata dari kategori sintaksis yang satu ke kategori sintaksis yang lain tanpa mengubah bentuknya. Contoh: nomina meja diturunkan menjadi verba meja, cangkul diturunkan menjadi verba cangkul.
Pengafiksan adalah penambahan afiks pada dasar. Contoh: jual ditambah afiks menjadi menjual, jalan ditambah afiks menjadi berjalan.
Reduplikasi adalah pengulangan suatu dasar. Contoh: lari menjadi lari-lari, tembak menjadi tembak menembak.
Kata turunan yang dibentuk yang dibentuk dengan proses reduplikasi dinamakan kata berulang. Dengan demikian, verba turunan dapat juga disebut verba berulang.
Pemajemukan adalah penggabungan atau pemaduan dua dasar atau lebih sehingga menjadi satu satuan makna. Contoh: jual, beli menjadi jual beli, jatuh, bangun menjadi jatuh bangun.
Kata turunan yang terbentuk melalui pemajemukan disebut kata majemuk. Dengan demikian, verba turunan dapat juga disebut verba majemuk. Pengafiksan dan reduplikasi dapat terjadi pada verba majemuk, misalnya memperjualbelikan, menghancurleburkan dan jatuh bangun.